Ide Meringankan Kemacetan Solusi Anti Macet

25Jul/101

Pandangan dari sudut pimprov

Para pimprov berpandangan lain dengan para pakar, mereka menyelesaikan masalah lalulintas dengan cara three in one, memakai sistim ganjil genap, Road price system, menambah jumlah bus yang nyaman, membuat MRT.

a.  Cara three in one, adalah cara yang paling pintar, pintar menciptakan lapangan kerja bagi banyak kaula miskin, tetapi tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah, jam berangkat ke kantor dan pulang kantor jadi berantakan.  banyak businessman mengundurkan jam pertemuan hanya karena waktu 3 in 1.  Di negara maju yang mana masih berlakukan ini?  Di Amereika misalnya, memang ada anjuran paling sedikit dua penumpang, bagi yang dua orang dalam satu mobil boleh ambil jalur khusus, tetapi tidak melarang yang berkendaraan sendirian masuk ke jalan raya!

b.  Pimprov katanya pernah pikir menyelesaikan kemacetan dengancara ganjil genap, dengan cara ini memang bisa paksa kemacetan berkurang, tapi roda ekonomi juga akan terancam stagnan.  Bayangkan, banyak yang kesukaran berkantor, sekolah, belanja karena mobilnya "diganjil genapkan".  Kalau transportasi umum telah memadai, boleh pikir ganjil genap untuk menghemat penggunaan BBM, tapi bila transportasi umum masih ambul radul, mau laksanakan "ganjil genap", akan menimbulkan masalah lain.

c.  Electronic Road Price (ERP) system.  Pemerintah berpikir ingin belajar negara maju, memakai ERP system, setiap kendaraan yang masuk ke jalan raya dikenakan pajak jalan ekstra.  Saya dengar mobil setiap hari dikenakan Rp: 20,000.- dan motor Rp: 7,000.-  Saya tidak bisa berucap banyak yang memanaskan situasi, saya hanya sampaikan, sesuatu policy yang akan merugikan 90% masa/rakyat, effeknya akan besar, dan bisa mengguncangkan keamanan.  JANGAN LAKSANAKAN IDE INI.  INDONESIA ADALAH NEGARA BERKEMBANG, JANGAN CONTOH CARA NEGARA MAJU YANG KANTONGNYA TEBAL.

d.  Membuat MRT, ini bisa menyelesaikan sebagian masalah, khususnya untuk orang yang tinggal disekitar stasiun MRT dan tempat kerjanya yang kebetulan juga ada di dekat stasiun MRT.  Jika rumahnya jauh dengan stasiun MRT (misalnya 5 KM), bagaimana ia pergi ke stasiun MRT?  Jalan kaki? atau  mobil diparkir distasiun MRT?  Berapa biaya parkir satu hari? (10 jam x 2000 rupiah = 20,000 rupiah) kalo tempat kerjanya 3 Km dari stasiun MRT, naik taksi 10,000 rupiah per trip?  Jikalau dikantor, ingin mengunjungi kawan bisnis yang tidak dalam jangkauan MRT, naik Taksi, berapa pengeluaran setiap bulan?  Saya dengar tarip MRT adalah Rp: 10,000.- (dengan asumsi sudah di subsidi Pemda DKI RP: 7,000) , bila satu bulan kerja 22 hari, bearti pengeluaran setiap bulan Rp: 440,000.-  Tentu pengeluaran ini ditanggung perusahaan, yang mana terjadi BIAYA TINGGI EKONOMI lagi.  Apa perusahaan sanggup menanggung biaya transportasi per staf Rp: 440,000.-?  Kalau UMR Rp: 1,250,000.- bearti sepertiga gaji sudah habis di transportasi.

e.  Ada seorang pejabat saking jengkelnya dengan banyaknya kendaraan motor, serta ambulradulnya cara pengemudi motor, pernah berpikir melarang motor.  Saya jelaskan kepada beliau, bahwa bangunan Indonesia berbentuk horisontal, sehingga transportasi umum seperti MRT tidak effisien di daerah biasa (kecuali sudah menjadi suatu network),  keluar dari halte atau stasiun MRT masih harus jalan jauh.

f.  Menambah kendaraan bus lagi, kalo yang ini saya akur.  Tetapi perlu saya ingatkan, sistim busway yang ambil satu lajur khusus untuk bus, tidak ekonomis karena jumlah aliran manusia yang memakai busway tidak sebanding bila dilepas untuk seluruh kendaraan.  Jika satu lajur untuk busway, misalnya sanggup mengangkut 30,000 penumpang sehari, bila dilepaskan untuk kendaraan pribadi, bisa mengangkut 100,000 orang dan MENGURANGI MACET.

Leo Kusima

About Leo Kusima

Tidak lulus SMA karena sekolah disegel rejim Suharto. Bergerak dibidang Transportasi, Telekomunikasi dan agen pembangkit listrik tenaga ombak.
Comments (1) Trackbacks (836)
  1. Ternyata sekarang pemprov hanya bisa melarang motor di jalur protokol, nanti setelah tetap macet, akan 6 in 1, kemudian ganjil genap, dan setelah MRT jalan, kami tidak punya cukup dana untuk naik MRT, dan jalan tetap macet.

    Akhirnya transportasi di Jakarta jadi neraka.


Leave a comment


Spam protection by WP Captcha-Free