Ide Meringankan Kemacetan Solusi Anti Macet

16Sep/110

Menyelesaikan Kemacetan Lalu Lintas DKI dengan Membuat Jalan Layang Khusus Motor

Jalan layang khusus kendaraan bermotor beroda kurang dari empat

(No Patent ID P0027150 )

Menjadi Gubernur DKI dan kota-kota besar sungguh berat, salah satu pekerjaan berat adalah masalah kemacetan lalulintas.

Kemacetan lalulintas telah membuat sistim perekonomi khususnya di Jakarta menjadi tidak effisien. Menurut data Harian Kompas, kemacetan telah menghabiskan BBM yang terbakar percuma sebesar Rp: 12,8 triliun. Perlu diingatkan, bahwa dalam Rp: 12,8 Triliun tersebut, belum termasuk biaya subsidi BBM pemerintah. Bila dihitung bersama biaya subsidi BBM, biaya ini bisa membengkak menjadi 17 trilin sampai dengan 18 triliun Rupiah. Bahkan menurut informasi dari Kadishub Jakarta yang dimuat dimesia kerugian termasuk waktu terbuang, polusi dan lain-lain mencapai 35 triliun per tahun.

Akibat kemacetan, pada umumnya, pengusaha atau pejabat pemerintah dalam satu hari paling banyak melakukan dua kali visit/perjalanan. Bahkan ada menteri yang terpaksa naik motor untuk menguber pertemuan/rapat. Parahnya kemacetan membuat mobil bisa stagnan sampai berjam-jam. Jangankan mobil, tidak jarang terjadi motorpun tidak dapat berkutik. Ini sering terjadi di jalan persimpangan didaerah perempatan ketika jam pulang kantor. Lalulintas kusut.

Menurut analisa saya semasa menekuni penyebab kemacetan, penyebab kemacetan terjadi karena :

  1. Kekurangan luas jalan di Jakarta. Di DKI, luas jalan hanya 6,2% dari luas kota. Untuk kota-kota metropolitan dunia, perbandingan berkisar antara 15% sampai dengan 20%. Belum terhitung dari 6,2% luas jalan masih harus disisihkan untuk parkir on street dan jalur busway yang harus steril dari kendaraan lain, praktis jalan yang tersisa mungkin tidak lebih dari 5,5%.
  2. Kendaraan lambat berbaur dengan kendaraan cepat, dengan demikian, kecepatan dari kendaraan cepat akan terbatas oleh kendaraan lambat, jika tidak mau ikut irama kendaraan lambat, maka terjadi TABRAKAN! Contoh antara lain kendaraan truk besar berjalan satu ruas dengan mobil penumpang, motor berseliweran diantara mobil penumpang, gerobak air, gerobak sampah berjalan di jalan raya juga, tak jarang bahkan lawan arah! Ambil contoh ketika jalan tol dalam kota melarang truk besar, lalu-lintasnya langsung menjadi lancar.
  3. Terjadi stagnan atau melanbatkan kendaraan di lajur jalan raya terutama disebabkan angkutan umum, yaitu ngetem. Pengeteman 90,000 angkutan umum pengaruhnya tidak kalah besar dengan baurnya kendaraan lamban dengan kendaraan cepat. Pengeteman ini termasuk parkir motor yang dikolong jembatan flyover, jembatan penyeberangan ketika terjadi hujan. Parkir on street, selain menyita ruas jalan, ketika parkir in dan parkir out, juga terjadi stagnan yang mengakibatkan kemacetan. Maka parkir on street harus dihapus. Polisi tidur di jalan akibatnya adalah melambatkan kendaraan dengan demikian secara akumulatif akan memperpanjang waktu perjalanan.
  4. Transportasi umum yang diinginkan rakyat (yang banyak memakai kendaraan motor) dan bisa diterima kalangan menengah atas (yang banyak memakai mobil sedan pribadi) dan turis adalah MURAH, BERSIH, SEJUK, CEPAT, EFFISIEN, AMAN dan NYAMAN. Karena transportasi umum adalah untuk mayoritas penduduk menengah kebawah, jika tidak memperhatikan faktor rendahnya gaji pekerja Indonesia (biaya transportasi tidak melebihi 10% dari total income mereka), sistim tersebut akan sulit jalan.

Pada umumnya para pakar transportasi memberi saran kepada Pemerintah menyelesaikan kemacetan dengan cara :

  1. Membatasi jumlah kendaraan mobil dan motor.
  2. Memakai sistim nomor ganjil-genap.
  3. Naikkan biaya STNK tahunan, sehingga mengurangi peminat membeli mobil-motor pribadi.
  4. Kawasan three in one atau Electronic Road Pricing (ERP).
  5. Menghapus parkir jalanan, dibuat gedung parkir.
  6. Menambah jumlah jalan Tol dalam kota, dan Flyover.
  7. Taksi, Busway, KRL, Metromini, Mikrolet, Angkot, Monorail atau MRT.
  8. Subsidi BBM untuk kendaraan sedan pribadi dihapus.
  1. Membatasi jumlah kendaraan mobil dan motor

Mengurangi jumlah mobil dan motor, memang akan langsung membuat jalan menjadi lenggang, tapi, mengapa penduduk di Jakarta (Jabodetabek) mati-matian berusaha ingin memiliki mobil atau motor pribadi? Karena untuk kalangan banyak, memiliki kendaraan mobil dan motor pribadi akan meningkatkan effisiensi dalam bekerja. Bila staf kantor setiap perusahaan setiap bepergian harus menggunakan angkutan umum, maka kuantitas pekerjaan yang dapat diselesaikan akan terbatas. Karena Jakarta adalah sebuah kota Megapolitan yang mayoritas bangunannya masih berbentuk horisontal, bukan vertikal, dan luasnya super besar. Tanpa SISTIM MASS TRANSPORTASI YANG BERKAPASITAS BESAR yang tepat waktu, bisinis bisa stagnan. Ambil contoh, bila seorang pegawai DKI mau berangkat dari Gedung DKI ke PAM (pejompongan) dengan menggunakan kendaraan umum ditambah jalan kaki, bisa tercapaikah dalam waktu 100 menit? Bila menggunakan motor, mungkin bisa tercapai dalam waktu kurang dari 50 menit! Busway bila tanpa berpindah rute, mungkin masih lumayan cepat, tetapi jika ingin pindah rute, maka waktu tempuh bisa sangat lama, khusus pada waktu pergi pulang kantor.

Naik Busway, kalau kebetulan kantor kita berada didepan halte Busway, dan tiba digedung yang kebetulan didepan halte Busway, itu tidak masalah. Tetapi jika kita membawa uang tunai 20 juta rupiah, harus jalan kaki 10-15 menit baru bisa tiba di halte Busway, dan kantor tujuan juga tidak didepan persis halte Busway, yang mana harus berjalan kaki 10-15 menit, tentu perasaan was-was akan menghantui orang tersebut.

Dalam modernisasi suatu negara, salah satu patokan adalah sebisa mungkin menggunakan cara-cara seefisien! Tanpa menggunakan kendaraan moderen, GDP atau income per kapita tidak bisa naik! Bermusuhan dengan mobil dan motor tidak bermanfaat.

  1. Memakai sistim ganjil genap

Sistim Ganjil-Genap, yang beruntung adalah pabrik mobil-motor, karena sebagian orang yang tadinya hanya membutuhkan 1 kendaraan pribadi, untuk menjaga keefisiensian kerja, terpaksa membeli satu lagi. Jakarta sekarang memiliki 3 juta mobil dan 8 juta motor, jika peraturan ini diterapkan, mungkin akan menjadi 3,5 juta mobil dan 9 juta motor. Keuangan negara/masyarakat akan menambah 500,000 mobil baru dan 1 juta motor baru hanya karena peraturan tersebut.

  1. Naikkan biaya STNK tahunan

Ini suatu ide yang dapat dilaksanakan. Tapi hasil dari kenaikkan STNK tahunan tersebut harus KHUSUS DIGUNAKAN SEBAGAI DANA MENAIKKAN KUALITAS DAN KUANTITAS INFRASTRUKTUR JALAN.

  1. Kawasan Three in One dan ERP.

Kawasan three in one adalah ide yang terbukti mudah digagalkan hanya dengan memanfaatkan Joki. Tapi ide ini sangat berguna dalam pemerataan pendapat. Dengan cara ini, banyak anak-anak dan ibu-ibu telah menikmati hasil pemerataan tersebut. Tetapi tidak dalam menyelesaikan kemacetan, jam kemacetan bergeser ke jam setelah jam three in one! Atau membuat jalan alternative yang tidak terkena daerah three in one menjadi MACET!

Menggunakan ERP, pertama kita harus kalkulasi, berapa biaya hardware yang harus dikeluarkan dari cadangan devisa Indonesia? Saya perkirakan untuk 11 juta kendaraan di Jakarta, mungkin penduduk Jakarta harus mengeluarkan dana sampai 10 Triliun. Dan hasilnya hanya menggeserkan jam kemacetan saja. Bila kita mengenakan tarip ERP yang mahal, ekonomi Indonesia akan menjadi ekonomi mahal, bila mengenakan tarip ERP murah, tidak akan terjadi effek jerah. Kalau seluruh pengguna jalan, untuk menghindarkan ERP, sehingga mengurangi aktifitas mereka, tidakkah membuat GNP menjadi turun?

Apa tidak lebih baik dana 10 Triliun untuk penyediaan alat ERP digunakan untuk membuat “jalan layang khusus untuk kendaraan motor/sepeda”?

  1. Menghapus parkir jalanan

Luas jalan Jakarta di banding dengan luas kota Jakarta, hanyalah 6,2%. Jika kita potong lagi jalan yang digunakan untuk parkir serta menghambat kelancaran lalulintas ketika mobil melakukan parking/unparking, serta dipotong dengan jalur Busway, maka perbandingan jalan dengan luas kota Jakarta mungkin hanya 5,5%.

Pemerintah DKI dan kota-kota besar seharusnya segera menertipkan parkir jalanan, memberi insentive pajak dan kemudahan mendapatkan lahan untuk membangun gedung parkir. Parkir jalanan sama sekali tidak menguntungkan Pemda DKI. Dengan cara ini, kemacetan akan sangat berkurang.

  1. Menambah jumlah jalan TOL dalam kota dan FLYOVER

Ini cara yang baik, tapi memerlukan biaya besar dan lahan yang besar. Salah satu masalah kemacetan lalulintas adalah sulitnya mendapat/pembebasan lahan. Bagaimanapun, pembangunan FLYOVER ini sangat perlu dan effektif dalam mengurangi kemacetan.

  1. Taksi, Busway, KRL, Metromini, Mikrolet, Angkot atau MRT.

Ide ini baik, dengan demikian, dapat menekan jumlah kendaraan pribadi, polusi dan konsumsi BBM yang mulai langka. Seharusnya menggunakan KRL, MRT dan Bus Terowongan membuat satu sistim back bone Jakarta, kemudian metromini, angkot, mikrolet dan bus sebagai feeder. Taksi dan bajaj juga bisa jadi feeder.

  1. Subsidi BBM untuk kendaraan sedan pribadi dihapus

Para pakar berharap dengan menaiki harga BBM, akan dapat memaksa penduduk Jakarta berkurang minatnya untuk memiliki kendara pribadi. Ini bisa berguna untuk menekan jumlah mobil pribadi, tetapi kurang bearti bagi pengguna motor. Karena konsumsi BBM relative kecil bagi motor, dan jauh lebih hemat dan effisien bila dibandingkan menggunakan kendaraan umum. Karena memakai motor, kita bisa tercapai dari originate sampai destination. Pada prinsipnya, ide ini baik. Selain dapat mengurangi pengguna mobil yang hanya bermotif jago-jagoan, ini sangat berguna bagi APBN, berkurangnya subsidi BBM, maka pemerintah dapat alihkan dana subsidi untuk membangun RI.

Walaupun subsidi BBM harus dihapus, namun sebaiknya dilakukan setelah sistim Mass Transportasi backbone telah terbentuk, atau hampir selesai, sehingga dapat mengurangi gejolak.

Jumlah kendaraan se Jabodetabek :

mobil 2,677,303

motor 5,472,335

(Menurut data Harian Kompas tanggal 8 Oktober 2007, halaman 1, headline)

Menurut data terakhir Harian Kompas, tahun 2010

mobil sekitar 3,000,000

motor sekitar 8,000,000

Jumlah tambahan luas jalan setiap tahun hanya 0.1%. sedangkan kenaikkan jumlah kendaraan lebih besar dari 10%.

Apa saran kami untuk menyelesaikan masalah tersebut?

A. Kekurangan lahan jalan di Jakarta.

Problem ini hanya bisa diselesaikan dengan menambah jumlah jalanan dan pembatasan jumlah kendaraan. Dalam hal ini, saya setuju membatasi jumlah kendaraan dilakukan sebelum kapasitas jumlah luas jalan dapat ditingkatkan. Ini juga sangat bermanfaat untuk menekan perusahaan ATPM berpartisipasi dalam penyelesaian kemacetan. Untuk detailnya akan saya jelaskan dalam “dari mana kita mendapat sumber dana untuk melunasi biaya pembangunan infrastruktur”.

Apakah bertambahnya jumlah ruas jalan dapat menyelesaikan masalah tersebut? Jawab kami adalah : PASTI!

Coba kita tinjau, ketika tol BANDARA masih 2 x 2 lajur (sebelum diperluaskan), berangkat ke Bandara melalui Tol sering mengalami kemacetan yang fatal. Karena kapasitas jalan Tol tersebut sudah tidak dapat melayani keperluan ke Bandara dan ke daerah Kapuk Bahkan, bahu jalan dibuat sebagai “jalan alternative” oleh supir yang nakal.

Jasa Marga segera ambil tindakan memperluaskan jalan Tol Bandara menjadi 2 x 4. Setelah menambah lajur Tol Bandara, sekarang tidak macet lagi kecuali pada jam tertentu, di exit kapuk masih terjadi penumpukan kendaraan karena stagnan diloket pembayaran Tol.

Tetapi, untuk menambah ruas jalan di kota Jakarta tidak semudah menambah lajur di Tol Bandara, karena tanah di samping Tol Bandara memang milik pemerintah, tidak perlu pembebasan lahan. Setiap perluasan jalan yang dilakukan Pemda terbentur pembebasan tanah yang memerlukan dana sangat besar. Ini dikarenakan harga tanah di Jakarta sudah sangat mahal!

Untuk memecahkan masalah tersebut, saya telah mendaftarkan sebuah patent di Direktorat Patent, untuk menyelesaikan masalah tersebut, yaitu “Jalan layang khusus kendaraan bermotor beroda kurang dari empat”.

Dasar timbulnya patent ini adalah :

  1. Dinegara berkembang seperti Indonesia, India, Tiongkok, Vietnam, yang berpopulasi besar, dominannya kendaraan motor adalah suatu fakta dan future ke depan.
  2. Khusus di Indonesia, pengemudi yang paling amburadul adalah pengendara motor.
  3. Angka kematian tertinggi ada di sektor pengemudi motor.
  4. Mahalnya lahan khususnya di Jakarta.
  5. Beban berat motor yang jauh lebih ringan (250 Kg) dibandingkan truk kontainer (50 ton).
  6. Motor hanya memerlukan lajur selebar 1,5 meter dibandingkan mobil/kontainer yang memerlukan 3,5 meter per lajur. Sehingga biaya investasi bisa jauh lebih kecil (diperkirakan kurang dari 15% per lajur dari Tol dalam kota )

Keuntungan membangun Jalan layang khusus sepeda/motor :

  1. Biaya investasi relatif kecil, tidak memerlukan lahan yang banyak, dapat memanfaatkan sungai, jalur hijau, diatas ruas jalan non protokoler sehingga tidak mengganggu estetika.
  2. Jalan layang tersebut di desain sedemikian rupa, terdiri dari 3 lantai, lantai paling bawah digunakan untuk parkir motor dan sebagian digunakan untuk penampungan kaki lima, lantai kedua dan ketiga digunakan untuk kendaraan motor/sepeda yang berlawanan arah, jadi satu lantai satu arah. Dengan demikian akan mengurangi kualitas kecelakaan lalulintas. Semua jalur tertutup, tidak akan terkena terik matahari dan hujan, tidak akan ada kebanjiran. Serta menghemat lahan.
  3. Mengurangi kualitas dan kuantitas tabrakan lalulintas yang dapat menyebabkan meninggalnya manusia. Meningkatkan kenyamanan berkendaraan karena bebas terik matahari dan hujan. Pemandangan ketika hujan, dibawah kolong jembatan layang sering terpenuhi motor yang parkir untuk berteduh hujan yang menyebabkan kemacetan tidak akan terlihat lagi.
  4. Didesain untuk dapat menampung 4 juta motor/sepeda pada waktu bersamaan dan parkir 2,5 juta motor bersamaan. Dengan menambah 2,5 juta lahan parkir motor, akan mengurangi kemacetan lalulintas.
  5. Jalan layang tersebut adalah non Tol, sehingga pengemudi motor akan dengan senang hati, tanpa paksaan, untuk memakainya.
  6. Jika di Jabodetabek ada 8 juta motor, setiap motor cukup membayar hanya Rp: 35,000/bulan/motor, satu bulan pemda akan menerima Rp: 280 miliar, setahun mencapai Rp: 3,36 Triliun, setelah dipotong biaya operaional, sisa dana 2,5 Triliun dapat digunakan sebagai sumber dana pembayaran biaya membangun jalan layang dan biaya pembebasan lahan.
  7. Tidak ada lampu merah dalam sistim jalan layang tersebut, sehingga pengendara motor akan merasa sangat lancar di jalan layang tersebut.
  8. Jalan layang dibuat dengan konstruksi beton dan lantai beton, karena ringannya motor, dapat dipastikan dapat awet lebih dari 20 tahun dan jalannya jarang rusak.

B. Campur aduknya kendaraan cepat dengan kendaraan pelan.

Kita selesaikan satu per satu. Truk besar, kontainer, gerobak, gerobak air, becak, bajaj, pejalan kaki, asongan, motor dan sepeda.

Saya dengar Pemda akan melarang Truk besar dan kontainer jalan pada siang hari, Trunk dan kontainer hanya boleh jalan pada jam 22:00 s/d 05:00 di jalan raya di Jakarta. Ini adalah idea yang baik. Mungkin bisa ada sedikit kecualian, kecualian terjadi didaerah kawasan industri, kendaraan dari dan ke Tanjung Priok.

Gerobak, gerobak air dan becak harus dilarang total, diganti dengan gerobak bermotor, dengan demikian gangguan akan berkurang, dan tidak boleh lawan arah. Khusus grobak air, kita lakukan pendekatan, yaitu membuat tank air PAM dilokasi konsumen, sehingga grobak air tidak perlu seliweran di jalan raya. Memang grobak air menyangkut keperluan hidup bagi masyarakat bawah, kita harus ada jalan keluar bagi mereka.

Bajaj termasuk Ojek dipasang meter, sehingga dapat mengurangi stagnan, dan hanya boleh jalan di jalur lambat. Motor dan sepeda setelah jalan layang selesai, harus jalan di jalur lambat.

Yang paling susah menyelesaikan pejalan kaki dan asongan, saya sulit memberi ide, kalo kaki lima dapat ditampung sebagian di lahan parkir jalan layang. Disarankan SPBU untuk motor serta tukang tambal ban dipindah juga ke lokasi daerah parkir motor dengan memperhatikan keselamatan.

Jikalau berhasil memisahkan hal tersebut, kecepatan berkendaraan dapat ditingkati sedikit.

  1. Menyelesaikan masalah Ngetem dan tidak disiplinnya kendaraan umum/angkot.

Kendaraan angkot/feeder selain harus dikontrol, juga harus diberi fasilitas, baru mereka akan tunduk dengan peraturan. Fasilitas yang diberikan misalnya boleh memakai premium (BBM bersubsidi), bebas pajak STNK tahunan, bebas biaya trayek, bebas membuat SIM Umum dan biaya perpanjangannya. Tapi harus ada hukuman jika menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempatnya, hukumnya bisa berupa denda dan hukum badan.

Kami sanggup mendesain suatu alat electronik yang dapat merekam gerak-gerik kendaraan, semacam kotak hitam. Alat ini mencatat apakah pintu terbuka jika tidak di lingkungan halte, bila terbuka bearti ngetem. Apakah kendaraan tersebut masuk terminal, bila tidak masuk terminal bearti tidak disiplin, menelantarkan penumpang.

D. Menyelesaikan pengemudi dan pejalan kaki yang tidak disiplin

Kami tidak mempunyai ide terhadap ini, kecuali menyarankan merubah hukum di Indonesia, bagi pejalan kaki yang sembarangan, bila terjadi tabrakan, jangan pengemudi yang disalahkan. Hukum yang berlaku membuat pejalan kaki merasa seakan-akan masih berlenggang lenggok di desa, tidak takut sama mobil.

Satu cara lagi mengajar peraturan lalulintas ketika mereka masih sekolah di SD.

E. Kualitas jalan jelek.

Jeleknya kualitas jalan akan memperlambat kecepatan kendaraan, ini sudah pasti. Saya juga heran mengapa kualitas jalan di Indonesia begitu jelek, mungkin harus menanya kepada para insinyur. Saya tidak mempunyai ide.

Khususnya polisi tidur, sebaiknya pemda tegas melaksanakan mengkikis semua polisi tidur, atau setidak-tidaknya membuat SNI untuk polisi tidur, sehingga peristiwa/kabar burung yang katanya polisi tidur bisa membuat ibu hamil gugur tidak terjadi di Indonesia. Ini akan menaikkan kecepatan berlalulintas dan rem mobil dan kolong mobil tidak cepat rusak.

Jeleknya kualitas jalan juga tercermin ditengah-tengah samping jalan bisa ada tiang listrik atau tiang telepon, atau jalan menyempit atau melebar mendadak.

F. Kaki lima yang menguasai trotoar dan badan jalan.

Untuk hal ini setelah selesai atau untuk daerah yang jalan layang khusus motor/sepeda selesai dibangun, memindahkan sebagian kaki lima ke lokasi parkir dan melarang keras dengan Satpol PP kaki lima yang berjualan di trotoar atau badan jalan.

Memperbaiki jalan tanah untuk pejalan kaki, dengan cara disemenkan. Lebar trotoar dibuat paling sedikit 2 meter, jangan dibuat untuk tempat menanam perpohonan.

Diluar saran membuat jalan layang khusus untuk motor/sepeda, saya sarankan memakai Bus Raksasa Kangkang untuk mengganti Bus biasa sehingga Busway bisa menjadi tulang punggung atau backbone dari Mass Transportasi.

Pemda Megapolitan Jakarta harus membangun suatu jaringan transportasi umum. Jaringan transportasi ini harus cukup cepat, lancar dan murah. Tidak boleh ada gangguan jika terjadi macet, juga harus nyaman. Sistim Mass Transportasi selain investasi per penumpang harus murah, biaya operasinya juga harus murah, dan tidak perlu di subsidi oleh pemda. Dan yang paling penting harus mempunyai kapasitas besar!

Yang dapat memenuhi kriteria atas, menurut kami, urutannya adalah : Busway yang menggunakan Bus Raksasa Kangkang, KRL dan MRT. Ketiga-tiganya mempunyai kapasitas sangat besar, dapat mengangkut lebih dari 1000 penumpang.

Bus Raksasa Kangkang KRL MRT

  1. Investasi Murah Sedang Mahal
  2. Kapasitas penumpang >1000 penumpang >1000 >1000
  3. Harga tiket Murah Murah Mahal
  4. Waktu untuk membangun Cepat (1 tahun 20 Km) Lama Lama
  5. Return of Investment Cepat Lama Lama
  6. Nyaman Nyaman Sedang Nyaman sekali
  7. Kecepatan 40 Km/Jam 40 Km/Jam 60 Km/Jam
  8. BBM Listrik Listrik Listrik
  9. Perlu disubsidi operasinya Tidak Sedikit Banyak

Bus raksasa kangkang juga sangat cocok dioperasikan di jalan Tol dalam kota, karena ketika Bus tersebut menurunkan/mengambil penumpang, penumpang bisa naik turun dari atas dek. Dan berhentinya bus tersebut dijalan Tol, tidak mengganggu lalulintas yang akan memakai jalan Tol tersebut, karena kendaraan bisa lewat dari perut Bus Raksasa Kangkang tersebut.

Setelah selesai membangun backbone jaringan Mass Transportation, yang mengijinkan penumpang boleh mengganti moda transportasi antara Bus Raksasa Kangkang, KRL dan MRT yang berkapasitas besar, maka Pemda Jakarta dapat “memaksa” banyak penduduk Jakarta meninggal mobil pribadi dengan berbagai cara yang nanti akan kami sebutkan dibawah.

Setelah selesai backbone Mass Transportasi, mikrolet, metro mini, angkot, taksi dan bajaj akan beralih fungsi hanya berfungsi sebagai feeder ke Mass Transportasi tersebut.

Jikalau Busway masih menggunakan kendaraan Bus seperti sekarang, maka Busway tidak bisa menjadi tulang punggung jaringan transportasi umum, sebabnya? Kita butuh berapa banyak bus untuk mengangkutnya? Dan yang paling penting, Busway yang menggunakan bus biasa telah menyita ruas jalan yang sangat beharga! Membuat lalulintas menjadi lebih macet lagi!

Kelebihan Bus Raksasa Kangkang selain tidak menyita jalan milik masyarakat, ketika Bus berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang, istilah dalam dunia transportasi adalah “ngetem”, tidak akan mengganggu kendaraan lain untuk melaju dari perut busnya.

Busway dengan menggunakan Bus Raksasa Kangkang dapat beroperasi dengan Rp: 3500.-/penumpang, tidak perlu disubsidi oleh pemda.

  • Saran kami cara untuk mengurangi pemilikkan kendaraan mobil pribadi
  1. Mengurangi subsidi BBM, misalnya policy mobil pribadi hanya boleh menggunakan Pertamax, akan sangat mengurangi minat membeli mobil, jika penggunaan mobil hanya sekedar keren-kerenan, atau tidak urgent.
  2. Melarang parkir jalanan, semua mobil hanya bisa parkir di gedung parkir. Untuk merangsang peminat usahawan mendirikan gedung parkir, tarip parkir harus direvisi. Ijinkan dengan tarip Rp: 5000./jam ditambah dengan overtime Rp: 3000.-/Jam. Tarip yang mahal akan mengurangi minat bepergian yang hanya bersifat keren-kerenan, yang tidak penting.
  3. Menyediakan sarana Mass Transportasi Backbone yang nyaman, ber AC, dilarang merokok, Aman, cepat tidak boleh ngetem sembarangan, dan always tersedia dengan tarip terjangkau.
  4. Kendaraan Bus, Metro mini, mikrolet, angkot, dirubah menjadi feeder Mass transportasi. Bajaj dan Ojek dipasang meter seperti di India. Dengan adanya meter dapat menghapuskan waktu tawar-menawar yang bearti tidak stagnan di jalanan.
  5. Kendaraan umum yang berstatus feeder dibuat halte yang berbentuk mencoak, sehingga ketika menaikkan dan menurunkan penumpang tidak mengganggu arus lintas dibelakang. Setiap kendaraan feeder dipasang BLACK-BOX (kotak hitam) yang dapat merekam pelanggaran misalnya apakah ngetem tidak, apakah masuk keterminal tidak. Pembayaran biaya angkutan feeder semua menggunakan IC Chip (Mandiri/BCA/Bank DKI) sehingga dapat menghemat dalam waktu membayar biaya angkutan. Sering melihat pengemudi mikrolet memerlukan waktu cukup lama untuk penerimaan dan pengembalian biaya bila yang turun ada 3-4 penumpang. Sebaiknya semua kendaraan feeder dirubah menjadi kendaraan feeder yang dapat dioperasi oleh seorang pengemudi saja.
  6. Ada pengontrolan electronik yang ketat terhadap angkutan feeder, tentu juga harus ada hadiah untuk mereka. Saran kami hadiah berbentuk bebasnya uang trayek, bebas biaya STNK tahunan, keringanan boleh memakai BBM bersubsidi sehingga mobil omprengan tidak dapat bersaing dengan feeder. Setiap kendaraan feeder boleh membeli 30 s/d 40 liter per hari BBM subsidi (dikontrol denga Chip). Dengan demikian, tanpa operasi oleh petugas polisi, kendaraan omprengan akan kalah saing dengan kendaraan feeder.
  7. Jika ada calon penumpang yang naik dilokasi bukan halte, selain menghukum pengemudi kendaraan feeder, penumpang juga harus dihukum denda.
  8. Menaikkan biaya STNK tahunan mobil sedan, dananya digunakan untuk pembangunan infrastruktur.
  • 8 juta motor harus dianggap kendaraan umum pribadi

Karena banyaknya jumlah kendaraan motor, dan secara de facto pengemudi motor ini adalah pengemudi yang nakal, lawan arah, nyelap nyelip, motong jalur seenaknya, digunakan sebagai kendaraan pengangkut beban, maka tidak heran bila ada sebagian pejabat pemda mempunyai rasa tidak senang dengan motor, bahkan ingin membatasi ruang gerak geriknya.

Saya bisa bilang, tanpa jasanya motor, GNP Indonesia tidak akan bisa naik dengan tajam, karena motor ini memang effisien sekali dan murah sekali bagi seseorang bepergian, bahkan lebih murah dari Bus. Sampai-sampai pengusaha bus merasa motor-lah yang menjadi pesaing mereka.

Saya minta pejabat pemda bisa beranggapan, bahwa kapasitas dan daya angkut 8 juta motor itu sebetulnya setara dengan 80,000 Bus besar, bahkan melebihi! Mengapa? Motor dapat “mengantar” seseorang dari Originate sampai Destination, sedangkan Bus hanya dari halte ke halte. Biarlah motor hidup berdampingan dengan sistim kendaraan umum (Mass Transportation). Tergantung orang yang membutuhkan. Bagi pelajar muda, orang tua, orang dari luar kota yang tidak mengenal jalan di Jakarta, tentu memakai kendaraan umum lebih nyaman. Bagi yang membawa koper harus bepergian ke Bandara atau stasiun kereta api, memakai kendaraan umum lebih nyaman.

Yang paling penting bagaimana kita membuat 8 juta motor ini dapat melanglang buana dengan aman dan nyaman, tidak terjadi tragedi kecelakaan yang memilukan.

Di Web-site kami, www.patent.kusima.org, bahkan kami mempunyai ide gila, membangun jalan layang antar kota, dengan demikian, ketika musim lebaran tiba, para pemudik dengan nyaman dan aman dapat pulang ke kampung, tanpa terjadi kecelakaan yang menyedihkan. Padahal masa lebaran seharusnya ada dalam suasana yang girang, tidak dalam keadaan menangis, menangisi saudara-saudaranya yang meninggal dalam kecelakaan mudik.

  • Sumber dana untuk membangun jalan layang khusus motor dan sepeda

Membangun suatu infrastruktur, tentu memerlukan suatu dana yang besar. Dan pada umumnya, suatu infrastruktur itu menyangkut kehidupan banyak orang, sehingga tidak bisa hanya menguber keuntungan, hal ini akan mengakibatkan return of investmentnya lama. Untuk meminta kredit dari perbankan, pemda perlu berhitung dengan cermat, apakah sanggup mengembalikan kredit tersebut. Tentu, pemda juga harus menghitung, apakah pengembalian pinjaman tersebut akan memberatkan rakyat. Bank juga harus berhitung dengan cermat, apakah pemda sanggup membayarnya.

Menurut kami, pemda memiliki sumber dana pembayaran pinjaman tersebut.

Jumlah yang dapat dikumpulkan/tahun

(Rupiah)

  1. Dari pungutan parkir motor (8 juta motor) 2,000,000,000,000.-
  1. Dari sumber kenaikan STNK mobil sedan dan motor 2,000,000,000,000.-
  2. Pajak pembelian mobil (pajak pusat, tapi digunakan

untuk pembangunan infrastruktur) 500,000 mobil/tahun 1,500,000,000,000.-

  1. Pajak pembelian motor 6 juta motor/tahun 1,500,000,000,000.-
  2. Pajak pembelian BBM 1,000,000,000,000.-

===============

Total 8,000,000,000,000.-

(delapan triliun rupiah per tahun)

Dana tersebut sangat cukup untuk membiaya pembangunan jalan layang untuk motor.

Apakah rakyat tidak marah? Tentu bisa marah. Tetapi kita bisa meyakinkan mereka, bahwa pajak/restribusi yang dipungut itu sebetulnya kembali ke kantong rakyat. Bila kita bandingkan dengan perhitungan dari pakar harian Kompas, yang menghitung biaya boros pembakaran BBM dan kerugian inmaterial yang mencapai 12,8 Triliun per tahun, sebetulnya rakyat Indonesia, khususnya Jakarta telah menghemat 4,8 Triliun per tahun. Kami yakin rakyat dapat mengertinya dan menerimanya. Dengan lancarnya lalulintas, ekonomi kita jadi LANCAR!

  • Siapa yang menderita kerugian bila menjalankan sistim ini?

Menjalankan rencana tersebut, jelas rakyat diuntungkan secara jangka panjang, tapi tentu ada sebagian orang merasa dirugikan, siapa yang dirugikan?

  1. Tukang parkir jalanan, yang mana restribusi parkir yang tadinya tidak masuk kas pemda, sekarang masuk ke kas pemda, serta backing-backing dari juru parkir tersebut. Juru parkir dapat direlokasi/dipekerjakan di sistim parkir motor. Pengaruh buruknya tidak begitu terasa.
  2. Kaki lima yang tadinya memakai lahan jalanan dan trotoar, dan uang sewanya dibayar kepada hansip atau jagoan setempat, sekarang harus bayar sewa dan masuk ke kas pemda. Untuk kaki lima, mereka bisa direlokasi ke lantai tempat parkir jalan layang, sehingga tidak begitu merugikan. Tetapi jagoan-jagoan dan hansip akan kehilangan income abu-abu.
  3. Pengemudi gerobak air. Khusus yang ini, mereka masih dapat bekerja, tetapi jangkauannya akan terbatas tidak melintasi jalan raya besar.
  4. Angkutan umum LIAR tidak bisa lawan lagi, dan akan musnah karena kalah bersaing dengan angkutan feeder yang menikmati subsidi BBM, biaya trayek, bebas membuat SIM dan memperpanjang SIM.
  • Siapa yang diuntungkan bila memakai sistim ini?

Seluruh rakyat Indonesia, pemerintah dan khususnya rakyat Jakarta. Selain menghemat BBM yang terbakar percuma, juga dapat menghematkan jam perjalanan yang melelahkan ini.

Dengan adanya jalan layang khusus untuk motor/sepeda ini, tentu menciptakan lapangan kerja dalam pembangunan jalan layang tersebut, selesai membangun, Pemda dan Komdak butuh tambahan personil polisi lalulintas untuk berjaga/mengatur lalulintas di jalan layang tersebut.

Dengan “menggusur” kakilima ke pelataran parkir motor, estetika kota juga bertambah baik. Pengemudi motor juga tidak kawatir kena jemur atau kena hujan. Dan tersedia pelataran parkir yang murah, Rp: 35,000.-/bulan dapat parkir dimana saja.

Ancaman nyawa dalam perjalanan menggunakan motor akan turun dratis, ini sudah PASTI!

Dengan adanya Bus Raksasa Kangkang tersebut, biaya transportasi akan menjadi murah, aman, nyaman dan terpadu.

Bandara memang milik pemerintah, tidak perlu pembebasan lahan. Setiap perluasan jalan yang dilakukan Pemda terbentur pembebasan tanah yang memerlukan dana sangat besar. Ini dikarenakan harga tanah di Jakarta sudah sangat mahal!

komentar dapat dibaca di :

http://teknologi.kompasiana.com/otomotif/2011/08/02/menyelesaikan-kemacetan-lalu-lintas-dki-dengan-membuat-jalan-layang-khusus-motor/

About Leo Kusima

Tidak lulus SMA karena sekolah disegel rejim Suharto. Bergerak dibidang Transportasi, Telekomunikasi dan agen pembangkit listrik tenaga ombak.
Comments (0) Trackbacks (87)

Leave a comment


Spam protection by WP Captcha-Free