Serie penyebab kemacetan 4 : Gerobak air, gerobak dorong lawan arah.
Ketika kita membawa kendaraan, sering melihat gerobak air, gerobak sampah, dan gerobak-gerobak lain yang selalu jalannya lawan arah.
Memang, bagi grobaker, bila tidak lawan arah, dia sulit mengendali gerobaknya, kalo dia tidak lawan arah, ketika depan ada halangan dan ia mau memindah arah gerobak, ia takut tertabrak kendaraan dari belakang, karena grobak tidak memakai kaca spion.
Gerobak, karena ada beban berat, gerobak jalannya sangat pelan. Sangat menggangu arus lalulintas dan kelancaran lalulintas. Apalagi dishub dan polantas tidak pernah mengurus sang grobak ini, maka jika ada grobak berlawan arah, kita harus memperlambatkan kendaraan.
Gerobak air dan gerobak gerobak sampah, sebaiknya diganti dengan gerobak motor yang banyak dipakai untuk pengangkutan pengantaran air aqua dan gas, saya lihat cukup baik, kecepatan tidak terlalu rendah, dan pada umumnya mereka tidak lawan arah.
Pemda harus mengeluarkan larangan gerobak tenaga manusia, tenaga kerbau dan kuda, diganti dengan gerobak motor. Yang tidak patuh, ditindak.
Gerobak sampah, dapat koordinir dengan RT/RW, saya kira satu RT/RW membeli gerobak sampah motor tidak ada masalah. Paling-paling gerobak sampah didrop dari pemda, tidak seberapa.
Menyelesaikan gerobak air, pemda dan PAM harus membuat depot air sedekat mungkin dengan penghuni yang memerlukan, sehingga grobak air tidak berseliweran di jalan raya dan sedang. Hanya berseliweran di jalan kecil dan kampung, Cara yang paling baik, adalah setiap rumah kumuh dan miskin diberi fasilitas sambungan PAM dengan kategori pelanggan kumuh, setiap hari diberi 500 liter air, dan TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Anggaplah jika ada pendidikan gratis sampai SMP, ini suatu kesejahteraan bagi rumah kumuh, batasnya sampai 500 liter per hari.
Dan effeknya, jalan lebih lancar.
Serie penyebab kemacetan 3 : dimulut gang dan halte, banyak ojek mangkal
Di setiap mulut gang, rata-rata ada 20 Ojek memangkal, pemandangan ini boleh bilang terjadi di semua mulut gang besar dan kecil. Bahkan ditempat halte dan tempat penurunan penumpang non halte, ojeker berseliweran. Sekali lihat ada bus datang menurunkan penumpang, ojeker berani lawan arus untuk merebut penumpang. Pemandangan ini saya sering lihat di jembatan gantung, arah dari Pesing ke Tangerang.
Manusia ada semacam penyakit pembuluh jantung, yaitu penumpukan lemak (parkiran lemak) di pembuluh darah. Ojek dan Ojeker ini bagaikan lemak dalam pembuluh darah (dalam tempat mulut gang), sehingga kendaraan yang mau keluar masuk gang menjadi susah.
kalau kita mengalami penyakit lemak (kolestrol), maka dokter akan meberi obat untuk membersihkan lemak. kapan dokter (dalam hal ini pemda yang diwakili dishub dan polantas) membersihkan lemak-lemak ojek yang parkir dan malng melintang di halte bus?
Setelah lemak hilang, pasti jalan lebih lancar.